Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2016

Namanya Prabowo

Kota ini hujan, ya memang biasanya seperti itu. Juga hari ini, saat aku pulang dari tempatku kerja, deras. Lalu ku berterimakasih kepada penemu mesin uap, kereta uap, penemu diesel, hingga penemu kereta listrik yang selama ini menjadi alat transportasi utama ku. Berkat mereka payung ku aman tersimpan, ya setidaknya sampai stasiun. Biar ku ceritakan perjalanan ku dari tempat kerja, pertama aku naik kereta, lalu menyebrang di jembatan penyebrangan kemudian menunggu angkot di halte untuk pulang ke rumah. Bosan, ya siapa juga manusia yang tahan jika kegiatannya hanya itu-itu saja. Apalagi jika hujan turun hampir setiap hari. Aku juga. Tapi tidak pada hari itu, 28 Januari 2016. Di stasiun. Kau tahu? Saat itu juga hujan. Lagi-lagi, aku terlalu malas membuka payung. Hujan gerimis rintik rintik itu aku terobos saja. Jaketku juga ada hoodie nya. Aku berlari kecil melewati hujan menuju gate keluar. Ditengah gerimis, aku berhenti karena melihat antrian panjang mengular. Aku mulai merapat ke bar

Refleksi

Teringat kisah seorang bernama narcisus yang tergila-gila pada dirinya sendiri. Pekerjaannya  hanya bercermin diatas danau. Setiap kali melihat wajahnya yang indah di air yang bening, semakin bertambah kagum lah dia pada diri sendiri. Begitu terus setiap hari hingga ia mati. Ada juga kisah seekor harimau hutan yang bercermin di danau. Melihat ke dalam air, lalu marah-marah, menggeram, akhirnya melompat menerkam bayangannya sendiri. Kemudian tenggelam dan mati. Mari kita lihat dua kisah ini. yang pertama begitu mencintai dirinya hingga lupa segalanya, yang kedua juga begitu mencintai dirinya dan tak ingin tersaingi. Keduanya mati, dalam bayangan mereka sendiri. Kalian paham bukan? mereka adalah makhluk yang indah. Dan wajar jika mereka cinta pada dirinya yang indah, tapi ya begitu, harus cinta yang wajar. Lalu disini aku juga akan bercerita tentang seseorang yang kembali berbangga diri. Tapi ia tidak indah, bahkan biasa saja. Malah terdapat jaringan parut di wajahnya. Ia juga senang

Mamah

Semalam aku tidak ingat apakah aku bermimpi atau tidak. Berarti tidurku berkualitas, kata orang. Bahkan aku terbangun sebelum adzan berkumandang, lalu ke kamar mandi. Ku putuskan untuk mencuci, kemudian menjemur. Setelah kering nanti ku setrika. Hal yang wajar, bukan? Energi ku pagi ini terasa berbeda, berlimpah. Mungkin efek detergent yang baru aku gunakan, seperti yang iklan di televisi bilang "busanya berlimpah" mungkin ada hubungannya, mungkin juga tidak. Entahlah Sarapan bersama mamah, segelas susu dan dua iris roti panggang. Namun tidak benar benar di panggang, maksudku lebih tepatnya diletakan di atas teflon, olesi mentega, lalu agak di tekan tekan. Trik sederhana. Rasanya? Tak usah di tanya, sama saja. Seperti yang sudah kukatakan, energi ku sedang berlimpah, mamah juga mungkin merasakannya. "Nah gituu.. Nyuci pagi pagi" "Siap mah, hhe" Ya, mamah pasti tahu kalau anaknya sudah kehabisan baju. Aku dan mamah tak begitu banyak berceng

Macet

Seperti biasa aku berangkat naik angkutan kota. Di kota hujan ini, kemacetan juga jadi salah satu landmark. Hujan yang tak terduga, macet dimana mana, tapi kamu tahu? Tetap sama, tetap cinta. Kalau ditanya kenapa, aku juga tak mengerti. Ada satu hal yang ingin aku beritahu soal mengahadapi kemacetan, bukan satu maksudku, tapi dua, ya dua hal sederhana yang aku mulai sering mempraktekannya. Pertama, jadilah kreatif, lakukan hal yang bisa dilakukan di sela sela kemacetan, chatting dengan teman misalnya. Walaupun isinya juga mungkin keluhan karena macet yang tak kunjung terurai. Hehe. Kurasa tak apa. atau jadilah kreatif dengan memandang kemacetan dari sisi baiknya. Misalnya di dalam angkot ga kepanasan. lepas hujan semalam, paginya ternyata berawan dan sejuk. Atau kalau kebetulan memang panas, ya coba dibuat santai saja. Coba cari hal hal baik agar bisa berpikir positif. Masih ga bisa juga? Yasudah, mungkin itu juga termasuk cara menikmati kemacetan. Hal kedua yang dilakukan saat

Hujan

Hujan, sesuatu yang membuatku kadang menggerutu, ya saat ini ku tak membawa jaket ber-hoodie- bisa dipastikan kepalaku tersiram hujan. Rupanya aku juga terlalu malas mengeluarkan payung dari dalam tas. Tapi sudahlah, toh ini hanya hujan biasa. kabar baiknya, jembatan penyebrangan yang aku lewati memiliki atap hingga aku leluasa berjalan tanpa khawatir kehujanan.  Saat itu ku memakai sepatu dengan hak tinggi, jadi saat turun tangga aku merasa harus lebih berhati hati. Saat fokus dengan tangga yang aku pijak, seseorang menawariku jas hujan. Memang ada banyak pedagang di jembatan penyebrangan. Tak ku lirik karena ku merasa harus fokus pada sepatu dan pijakanku, hanya menggelengkan kepala menandakan "tidak". tapi orang itu masih terus menawariku sambil berkata "mba jas hujannya mba, jas hujan nya". Merasa gemas, aku menolehkan kepala untuk berkata tidak, tapi tak jadi, karena ternyata itu dia, sambil tersenyum lebar seperti biasa. Entah itu upaya meledekku atau apa,

Body Image

Hai para pembaca, hari ini Lisna ingin posting sepenggal drama yang sempat Lisna buat pada saat masih kuliah, tentang body image. Apa itu Body image? Body Image adalah persepsi seseorang terhadap tubuh yang dimilikinya. Dalam penggalan drama berikut, akan diceritakan beberapa kesalahan yang sering terjadi mengenai body image, penasaran? selamat membaca... Pemain : Klien                :           Kustarto R T (Kus) , Annisa Prisilia A (Ica) Konsultan      :           Natasha F G Asisten           :           Elsa S   Setting #1 taman kota Matahari cerah menerangi seluruh kota, angin bertiup dengan lembut, bahkan tak mampu menggugurkan daun kering dari ranting. Ditengah taman kota, dua orang yang tengah dilanda asmara terlihat sedang berbincang bincang, mereka Ica dan Kus. Mereka duduk saling berhadapan di sebuah bangku taman berwarna oranye. I : iih, kok rasanya badan aku gendut banget ya bang? K : iya, kamu emang gendut, kok baru sad