Skip to main content

Dalam doa

Akupun tak tahu
Tak ada yang tahu
Akan esok yang menunggu

Rupanya tak tentu
Suram atau hanya buram

Tak lebih tak kurang
Hanya setitik harapan
Penyinar kegelapan

Lika liku ia berjalan
Menjumpai teman yang menunggu

Dia yang menunggu
Tak saja buram
Absurd kah? mungkin hilang
Atau terlambat terang

Dan aku
Hanya bisa diam
Dalam doa dan harap
Pada dia yang menunggu

Whatsapp, 1.25 p.m.

Popular posts from this blog

Siap Menikah (?) part 1

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [QS. Ar. Ruum (30):21]. Kalimat ini sering banget muncul di bagian awal-awal undangan pernikahan yang disebar via dunia maya. Sampe-sampe khatam kalau misalnya ada kalimat basmallah dan dilanjut terjemahan ini, dapat dipastikan itu adalah undangan pernikahan. Di usia sekarang ini (red : 23 tahun) teman sepermainan sudah banyak yang mengirimkan surat undangan, lalu kita menghadirinya, sembari kemudian banyak yang bertanya juga "kondangan terus, kapan dikondangin?" baiklah. Itu klise yang memang tak penting untuk dijawab, karena toh orang yang nanya juga ga sepenuhnya peduli dengan "kapan" nya kita, wqwq. Adakalanya quotes quotes ajaib beredaran dunia maya sebagai ...

Mimpi

Hai.. Apa kabar? Semalam aku bermimpi.. ada kamu di mimpi itu.. Lucu.. karena rasanya sudah lama kita tidak bertemu.. Di mimpi itu.. kamu seperti terburu waktu.. berjalan dengan bergegas.. kita sempat bertatapan sekilas.. tapi.. seperti yang aku kata tadi.. kamu terburu pergi.. namun masih sempat melambaikan tangan.. Hha.. rasanya sudah lama tak melihat kacamata itu.. jaket yang hitam itu..  Waah.. Semua terasa nyata.. Aku kira semuanya selesai sampai disitu.. mimpi itu kiranya sudah usai.. tapi rupanya tidak.. kamu muncul lagi.. kali ini bersama teman teman dari fakultas mu.. aku rasa aku mengenal mereka.. tapi lupa.. waktu itu juga aku berniat menghampiri mu.. tapi ku urungkan.. ternyata kita malah berpapasan dan berjalan beriringan.. kau pun bertanya.. "kamu kemana aja?" Entahlah.. aku tak menjawab saat itu.. hanya memandang mu.. akhirnya kamu pun pamit duluan.. sambil agak berlari.. lagi lagi aku cuma memandang.. berkata dalam hati tak mau diting...

“Kalau Hari Ini.”

Kalau hari ini adalah aku itu hanyalah tentang aku yang beku se beku salju yang kamu ceritakan tempo hari lalu Diam, bisu dan tetap saja beku Kalau hari ini adalah kamu itu hanya tentang kamu yang juga beku karena beku tak pernah mau tahu Lalu? Kamu mengadu dengan cara mu tetap dengan diam dan beku Kalau hari ini adalah kita kamu tahu, aku tak pernah berani menyebutnya istimewa sebab ini hanya berisi cerita-cerita Tentang kita, tentang prosa sederhana Kalau hari ini adalah kita maaf, sekali lagi maafkan aku untuk rasa yang berirama jarak, waktu dan jiwa raga kita Mungkin, sekarang kamu tengah berpijak pada salju, tanah lembab atau serakan sakura Sedang aku masih tetap berdiam pada bangku tempat kita dulu berbagi cerita kalau hari ini adalah kita ya, Pastikan kemarin, hari ini, esok dan lusa ialah tempat kita berbagi tanya dan mengatur cerita Bogor, 25 Desember 2013