Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Fiksi

Aku Tak (Akan) Curang

"Aku.. ," ucapku memulai percakapan kita. "Takut, jika sikap terlalu khawatir ku justru membuat mu merasa tak nyaman" Lanjut ku "Terlalu khawatir akan hal apa?" Tanyamu menanggapi enggan Dan ku terdiam. Mungkin memikirkan jawaban. Atau memang benar benar kehabisan kata untuk mengungkapkan. Mungkin bagimu yang terlihat lebih banyak tak peduli, aku adalah sosok yang terlalu banyak perhatian. Bagimu yang menganggap semuanya simple, Aku orang yang terlalu rumit. Entahlah, Aku hanya terlalu sering memikirkan hal yang mungkin, tidak penting. Aku hanya orang yang terlalu banyak kekhawatiran, apalagi jika tentang mu. Mungkin ini hanya karena ku merasa tak percaya diri. Merasa masih seperti mimpi, saat orang seperti mu ada di sini, bersamaku. Maka itu aku khawatir, jika membebani atau merepotkanmu. "Terimakasih Cill," Ujar mu, "Terimakasih sudah mau khawatir tentang ku, sekaligus maaf jika aku memang membuat mu khawatir" Lanjut mu  An...

Namanya Prabowo

Kota ini hujan, ya memang biasanya seperti itu. Juga hari ini, saat aku pulang dari tempatku kerja, deras. Lalu ku berterimakasih kepada penemu mesin uap, kereta uap, penemu diesel, hingga penemu kereta listrik yang selama ini menjadi alat transportasi utama ku. Berkat mereka payung ku aman tersimpan, ya setidaknya sampai stasiun. Biar ku ceritakan perjalanan ku dari tempat kerja, pertama aku naik kereta, lalu menyebrang di jembatan penyebrangan kemudian menunggu angkot di halte untuk pulang ke rumah. Bosan, ya siapa juga manusia yang tahan jika kegiatannya hanya itu-itu saja. Apalagi jika hujan turun hampir setiap hari. Aku juga. Tapi tidak pada hari itu, 28 Januari 2016. Di stasiun. Kau tahu? Saat itu juga hujan. Lagi-lagi, aku terlalu malas membuka payung. Hujan gerimis rintik rintik itu aku terobos saja. Jaketku juga ada hoodie nya. Aku berlari kecil melewati hujan menuju gate keluar. Ditengah gerimis, aku berhenti karena melihat antrian panjang mengular. Aku mulai merapat ke bar...

Mamah

Semalam aku tidak ingat apakah aku bermimpi atau tidak. Berarti tidurku berkualitas, kata orang. Bahkan aku terbangun sebelum adzan berkumandang, lalu ke kamar mandi. Ku putuskan untuk mencuci, kemudian menjemur. Setelah kering nanti ku setrika. Hal yang wajar, bukan? Energi ku pagi ini terasa berbeda, berlimpah. Mungkin efek detergent yang baru aku gunakan, seperti yang iklan di televisi bilang "busanya berlimpah" mungkin ada hubungannya, mungkin juga tidak. Entahlah Sarapan bersama mamah, segelas susu dan dua iris roti panggang. Namun tidak benar benar di panggang, maksudku lebih tepatnya diletakan di atas teflon, olesi mentega, lalu agak di tekan tekan. Trik sederhana. Rasanya? Tak usah di tanya, sama saja. Seperti yang sudah kukatakan, energi ku sedang berlimpah, mamah juga mungkin merasakannya. "Nah gituu.. Nyuci pagi pagi" "Siap mah, hhe" Ya, mamah pasti tahu kalau anaknya sudah kehabisan baju. Aku dan mamah tak begitu banyak berceng...

Macet

Seperti biasa aku berangkat naik angkutan kota. Di kota hujan ini, kemacetan juga jadi salah satu landmark. Hujan yang tak terduga, macet dimana mana, tapi kamu tahu? Tetap sama, tetap cinta. Kalau ditanya kenapa, aku juga tak mengerti. Ada satu hal yang ingin aku beritahu soal mengahadapi kemacetan, bukan satu maksudku, tapi dua, ya dua hal sederhana yang aku mulai sering mempraktekannya. Pertama, jadilah kreatif, lakukan hal yang bisa dilakukan di sela sela kemacetan, chatting dengan teman misalnya. Walaupun isinya juga mungkin keluhan karena macet yang tak kunjung terurai. Hehe. Kurasa tak apa. atau jadilah kreatif dengan memandang kemacetan dari sisi baiknya. Misalnya di dalam angkot ga kepanasan. lepas hujan semalam, paginya ternyata berawan dan sejuk. Atau kalau kebetulan memang panas, ya coba dibuat santai saja. Coba cari hal hal baik agar bisa berpikir positif. Masih ga bisa juga? Yasudah, mungkin itu juga termasuk cara menikmati kemacetan. Hal kedua yang dilakukan saat...

Hujan

Hujan, sesuatu yang membuatku kadang menggerutu, ya saat ini ku tak membawa jaket ber-hoodie- bisa dipastikan kepalaku tersiram hujan. Rupanya aku juga terlalu malas mengeluarkan payung dari dalam tas. Tapi sudahlah, toh ini hanya hujan biasa. kabar baiknya, jembatan penyebrangan yang aku lewati memiliki atap hingga aku leluasa berjalan tanpa khawatir kehujanan.  Saat itu ku memakai sepatu dengan hak tinggi, jadi saat turun tangga aku merasa harus lebih berhati hati. Saat fokus dengan tangga yang aku pijak, seseorang menawariku jas hujan. Memang ada banyak pedagang di jembatan penyebrangan. Tak ku lirik karena ku merasa harus fokus pada sepatu dan pijakanku, hanya menggelengkan kepala menandakan "tidak". tapi orang itu masih terus menawariku sambil berkata "mba jas hujannya mba, jas hujan nya". Merasa gemas, aku menolehkan kepala untuk berkata tidak, tapi tak jadi, karena ternyata itu dia, sambil tersenyum lebar seperti biasa. Entah itu upaya meledekku atau apa,...