Skip to main content

Berharap?



kau bilang, jangan berharap lebih "padaku"
ya, sesungguhnya aku tak pernah ingin merasa berharap padamu
tapi, entahlah... apakah ini bentuk keterlambatan untuk menyadari
atau ini bentuk keegoisan yang tak mau merasa kehilangan
intinya, diri ini masih belum mau mengerti

kau lihat? sepertinya, salah itu kini padaku, bukan pada rasa,
kau pun bilang, jaga lah rasa, dan...  aku memeliharanya,
hingga ia tumbuh, dan hadirlah pucuk-pucuk baru.
tapi kau tahu? bersamanya juga mulai tumbuh pucuk-pucuk gulma,
yang mungkin bisa disebut "harapan"..
harapan-harapan itu juga tumbuh,

harapan, yang kau katakan dengan jelas untuk tak pernah memintanya dari mu
tapi entahlah, semakin banyak kau berkata jangan
semakin sering terlintas harapan itu
kenapa ?mungkin, aku sengaja menyalah artikan larangan mu sebagai rambu-rambu agar aku tak merasa kehilangan.

entahlah,, membicarakan hal ini sangat melelahkan, panjang dan entah sampai kapan.
tapi, setiap kali berbicara, hal ini juga terasa menyenangkan,
sekali lagi, entahlah, entah apa yang aku ingin lakukan,
hingga akhirnya, pikiran ku sampai pada jalan buntu yang membuatku.. kembali menengok harapan harapan itu.
semua ini, terasa bersambungan, seperti siklus, antara "jangan_jaga_rasa_harapan"

#ditulisdenganiringanhujandandepapepe

pict source : Dok Pribadi

Popular posts from this blog

Siap Menikah (?) part 1

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” [QS. Ar. Ruum (30):21]. Kalimat ini sering banget muncul di bagian awal-awal undangan pernikahan yang disebar via dunia maya. Sampe-sampe khatam kalau misalnya ada kalimat basmallah dan dilanjut terjemahan ini, dapat dipastikan itu adalah undangan pernikahan. Di usia sekarang ini (red : 23 tahun) teman sepermainan sudah banyak yang mengirimkan surat undangan, lalu kita menghadirinya, sembari kemudian banyak yang bertanya juga "kondangan terus, kapan dikondangin?" baiklah. Itu klise yang memang tak penting untuk dijawab, karena toh orang yang nanya juga ga sepenuhnya peduli dengan "kapan" nya kita, wqwq. Adakalanya quotes quotes ajaib beredaran dunia maya sebagai ...

Passion mu

Dirasakan atau tidak, kesendirian dan rasa sepi saat jauh darimu selalu ada. Sibuk ataupun tidak, kekhawatiran tentang mu bergumam dalam kepala. Apa kamu makan cukup, apa orang-orang memperlakukan mu dengan baik, apa kamu bisa mandi setiap hari dan tidak sakit, apa ada gadis atau mungkin janda yang merebut perhatian mu? Ah yang terakhir pasti tidak mungkin. Kurasa, yaaa.. tidak mungkin saja. Atau mungkin saja sih, kalau kamu bertemu yang mirip dengan ku. Tapi, katamu aku cuma satu. Dulu. Rasanya sekarang aku ingin langsung berlari untuk menelponmu. *** "Beberapa waktu ke depan aku ditugaskan di perbatasan Indonesia, Cilla" Ungkap mu saat kita berlibur di Jogja. Penginapan dengan nuansa rumah joglo yang kamu pilih, ditambah lagi rencana kita untuk bercakap-cakap menggunakan bahasa daerah, benar-benar membuatku merasa menjadi orang Jawa. Aku prepare untuk belajar bahasa jawa, meski sebenarnya aku cukup mengerti walau sedikit. Kamu juga pernah tinggal lama di s...

Aku Tak (Akan) Curang

"Aku.. ," ucapku memulai percakapan kita. "Takut, jika sikap terlalu khawatir ku justru membuat mu merasa tak nyaman" Lanjut ku "Terlalu khawatir akan hal apa?" Tanyamu menanggapi enggan Dan ku terdiam. Mungkin memikirkan jawaban. Atau memang benar benar kehabisan kata untuk mengungkapkan. Mungkin bagimu yang terlihat lebih banyak tak peduli, aku adalah sosok yang terlalu banyak perhatian. Bagimu yang menganggap semuanya simple, Aku orang yang terlalu rumit. Entahlah, Aku hanya terlalu sering memikirkan hal yang mungkin, tidak penting. Aku hanya orang yang terlalu banyak kekhawatiran, apalagi jika tentang mu. Mungkin ini hanya karena ku merasa tak percaya diri. Merasa masih seperti mimpi, saat orang seperti mu ada di sini, bersamaku. Maka itu aku khawatir, jika membebani atau merepotkanmu. "Terimakasih Cill," Ujar mu, "Terimakasih sudah mau khawatir tentang ku, sekaligus maaf jika aku memang membuat mu khawatir" Lanjut mu  An...